rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Pergantian Tahun Identik Dengan Hura Hura, Ketahuilah Allah Tidak Menyukainya

1 min read

Pergantian Tahun Identik Dengan Hura Hura, Ketahuilah Allah Tidak Menyukainya

itseenews.com – Perayaan malam Tahun Baru tinggal menghitung jam, dan biasanya identik dengan kembang api.

Masih banyak saudara-saudara kita yang untuk makan saja masih susah, masih banyak saudara-saudara kita yang bila hujan atap rumahnya masih mengalami kebocoran.

Pergantian Tahun Identik Dengan Hura Hura, Ketahuilah Allah Tidak Menyukainya
Pergantian Tahun Identik Dengan Hura Hura, Ketahuilah Allah Tidak Menyukainya

Akan lebih elok dan bermanfaat lagi jika pergantian tahun diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bernuansa islami, seperti mengundang penceramah dan pengajian sebagai perilaku kita untuk muhasabah diri (introspeksi diri) atas apa yang kita buat selama kurun satu tahun terakhir, terutama kewajiban kita sebagai manusia untuk beribadah kepada yang menciptakan.

Apa yang sebaiknya dilakukan di malam tahun baru?

Amalan Yang Baik Dilakukkan Malam Tahun Baru

Masalah seperti ini sudah pernah disampaikan kepada Mufti Al-Azhar:

ﻣﺎ ﺭﺃﻯ اﻟﺪﻳﻦ ﻓﻰ اﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻌﺾ اﻟﺪﻭﻝ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﻣﺜﻞ ﺃﻋﻴﺎﺩ اﻟﻨﺼﺮ ﻭﻋﻴﺪ اﻟﻌﻤﺎﻝ ﻭﻋﻴﺪ ﺭﺃﺱ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ؟

“Apa pandangan agama tentang perayaan hari kemerdekaan, hari buruh, tahun baru dan sebagainya?”

Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyyah Shaqr menyampaikan penjelasan sangat luas. Bahwa perayaan dalam Islam ada yang dijelaskan dalam agama seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Ada yang tidak dijelaskan secara langsung seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan sebagainya, yang memiliki dua pendapat antara yang membolehkan dan membidahkan.

Beliau melanjutkan:

اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻢ ﻳﺤﺼﺮ اﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﺑﻞ ﺫﻛﺮ ﻓﻀﻠﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ اﻟﺘﻰ ﻧﻘﻠﻮﻫﺎ ﻋﻦ اﻟﻔﺮﺱ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﻴﺪ اﻟﻨﻴﺮﻭﺯ ﻓﻰ ﻣﻄﻠﻊ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﺠﺪﻳﺪﺓ ﻓﻰ ﻓﺼﻞ اﻟﺮﺑﻴﻊ، ﻭﻋﻴﺪ اﻟﻤﻬﺮﺟﺎﻥ ﻓﻰ ﻓﻀﻞ اﻟﺨﺮﻳﻒ

Hadis ini tidak sekedar membatasi hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Hadis itu menjelaskan keutamaan keduanya dibanding hari perayaan penduduk Madinah yang mereka terima dari Persia. Di antaranya ada perayaan Nairuz dan Mahrajan di awal tahun musim dingin dan panas.

ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻧﺺ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﻔﺮﺡ ﻭاﻟﺴﺮﻭﺭ ﻓﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ

Tidak ada dalil nash yang melarang untuk ikut senang dan bahagia di selain Idul Fitri dan Idul Adha (Fatawa Al-Azhar 10/160)

Mufti Al-Azhar ini tetap mensyaratkan perayaan tersebut tidak menyimpang dari koridor syariat Islam.

Namun ada riwayat dari ulama Salaf kita berkenaan di malam Tahun Baru bangsa dan agama lain, seperti yang disampaikan oleh Imam Al-Baihaqi:

ﻛَﺎﻥَ ﺯُﺑَﻴْﺪٌ اﻟْﻴَﺎﻣِﻲُّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔً ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ اﻟﻨَّﻴْﺮُﻭﺯِ، ﻭَﻳَﻮْﻡُ اﻟْﻤِﻬْﺮَﺟَﺎﻥِ اﻋْﺘَﻜَﻔُﻮا ﻓِﻲ ﻣﺴﺎﺟﺪﻫﻢ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻟُﻮا: ” ﺇِﻥَّ ﻫَﺆُﻻَءِ ﻗَﺪِ اﻋْﺘَﻜَﻔُﻮا ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻔْﺮِﻫِﻢْ، ﻭَاﻋْﺘَﻜَﻔْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻨَﺎ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ “

Zubaid Al-Yami dan jamaahnya melakukan itikaf di masjid mereka pada hari perayaan (tahun) Nairuz dan Mahrajan. Doanya: “Mereka beri’tikaf atas kekufuran mereka. Sementara kami beritikaf atas iman kami. Maka ampunilah kami” (Syuab Al Iman)

rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *