rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Jadwal, Niat dan Tata Cara Melaksanakan Puasa Rajab

2 min read

puasa bulan rajab 8 maret 2019

Jadwal, Niat dan Tata Cara Melaksanakan Puasa Rajab – Jadwal Puasa Rajab dan berapa hari dilaksanakan puasa di bulan Rajab.

Apa Itu Puas Rajab ?

Puasa Rajab adalah salah satu amalan yang bisa ditunaikan ketika Bulan Rajab tiba.

Bulan Rajab 1440 H atau bulan Rajab 2019 akan jatuh pada Jumya (8/3/2019).

Artinya, hanya tinggal satu hari lagi umat Islam akan mulai menyambut datangnya Bulan Rajab.

Tata Cara Melaksanakan Puasa Rajab
Tata Cara Melaksanakan Puasa Rajab

Bulan Rajab menjadi salah satu bulan haram (mulia) selain bulan Ramadhan.

Tak hanya Rajab, ada beberapa bulan haram lain, yakni bulan Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Puasa Rajab dapat dimulai sejak hari pertama Bulan Rajab.

Artinya, Puasa Rajab tahun 2019 dapat ditunaikan mulai besok, Jumat (8/3/2019).

Jika puasa di bulan Ramadhan pasti dilaksanakan selama satu bulan, lantas berapa hari puasa Rajab ditunaikan?

Dikutip rahmadjazuli.com dari dakwahuii.com, Kamis (7/3/2019) tidak ada ketentuan hari dalam melaksanakan Puasa Rajab.

puasa bulan rajab 8 maret 2019
puasa bulan rajab 8 maret 2019

Akan tetapi, dalam sebuah hadits disebutkan pahala 1 hari puasa bagaikan 1 bulan puasa, 7 hari ditutupkan pintu neraka, 8 hari akan dibukakan pintu surga, dan 10 hari akan seluruh keinginannya.

Melihat ini, puasa Rajab dapat dikerjakan berapa hari saja sesuai kemampuan masing-masing.

Menurut Para Ulama

Namun, menurut para ulama, puasa Rajab lebih diutamakan dikerjakan selama 10 hari mulai tanggal 1 hingga tanggal 10 bulan Rajab.

Karena itu, Puasa Rajab dapat mulai dikerjakan mulai Jumat (8/2/2019) besok.

Adapun niat puasa di bulan Rajab adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِى شَهْرِ رَجَبِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma ghadin fi syahri rojabi sunatan lillahi ta’alaa.

Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah):

“Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.”

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi.

Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulanRajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim.

Bahkan berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan.

Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah).

Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu.

Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban.

Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan muharram.

Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *