rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Fenomena Dua Air Laut yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska, Ini Penjelasan Dalam Alkur’an?

2 min read

Fenomena Dua Air Laut yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska

Fenomena Dua Air Laut yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska, Ini Penjelasan Dalam Alkur’an – Fenomena Teluk Alaska booming ketika seorang fotografer bernama Kent Smith mengabadikan foto pemandangan air di Teluk Alaksa yang tidak menyatu di Flickr pada Juli 2010.

Pada tahun 2013, sudah 860.000 yang memview gambar ini.

Fenomena Dua Air Laut yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska
Fenomena Dua Air Laut yang Tak Bisa Menyatu di Teluk Alaska

Namun apa yang sebenarnya terjadi di Teluk Alaska?

Teluk Alaska sendiri berada di antara dua negara, yaitu Amerika Serikat dan Kanada.

Teluk ini berada di ujung Samudera Pasifik yang terbentang dari Semenanjung Alaska ke Alexander Archipelago di ujung Samudera Pasifik.

Dalam gambar yang diambil Smith, terlihat di tengah Teluk Alaska mempertemukan air dari Samudera Pasifik dan air dari Laut Bering namun keduanya tidak menyatu.

Melihat itu semua terjadi beberapa perdebatan antara setiap orang yang melihatnya.

Secara ilmiah, jawaban yang bisa di dapat ialah adanya perbedaan massa air.

Contoh sederhana pasti kita tahu bahwa air dan minyak tidak bisa bersatu.

Begitu pun dengan kedua laut tersebut.

Tidak bersatunya dua air laut di Teluk Alaska tersebut dikarenakan perbedaan kepadatan air, suhu, dan salinitas (tingkat kadar garam) masing-masing.

Air dari Samudera Pasifik seperti jenis air laut pada umumnya yang asin dan memiliki kadar garam tinggi.

Sementara air Laut Bering berasal dari gletser atau es yang mencair.

Gletser sendiri di dapat dari air tawar atau air baru yang membeku.

Hal inilah yang membuat keduanya tidak bisa bersatu.

Contoh lainnya adalah Laut Mediterania yang berada di Samudera Atlantik.

Diketahui bahwa laut ini memiliki air yang hangat, tinggi garam, dan lebih pekat dibanding Samudera Atlantik.

Ketika Laut Mediterania memasuki Laut Atlantik melalui Selat Gibraltar, laut ini tetap tidak berubah.

Sehingga kedua laut tidak bisa tercampur.

Penjelasan Dalam Alkur’an

Fenomena laut merupakan satu dari sekian banyak fenomena alam yang menakjubkan. Manusia telah mengetahui bahwa ada pertemuan dua laut dengan karakteristik yang berbeda.

Dalam buku Tafsir Ilmi ‘Samudra dalam perspektif Alquran dan Sains‘ yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan mengenai batas dua laut.

Masing-masing tetap pada kakteristiknya, meskipun secara kasat mata bercampur oleh deburan gelombang. Mengenai hal ini, salah satu ayat Alquran telah mengungkap fenomena tersebut.

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi,” Al-Furqan Ayat 53.

Allah menggerakan dua buah laut yang berbeda, yang satu tawar dan yang lainnya asin. Masing-masing bergerak berdampingan namun tidak mengalami percampuran.

Menurut Penelitian

Berdasarkan penelitian, para ahli kelautan berhasil menyingkap adanya batas antara dua lautan yang berbeda. Mereka menemukan bahwa ada pemisah antara setiap lautan.

Pemisah itu bergerak di antara dua lautan dan dinamakan dengan front (jabhah), hal ini dianalogikan dengan front yang memisahkan antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini, setiap lautan memelihara karakteristiknya sesuai dengan makhluk hidup yang tinggal di lingkungan masing-masing.

Di antara pertemuan dua laut itu, terdapat lapisan-lapisan air pembatas yang memisahkan antara keduanya, dan berfungsi memelihara karakteristik khas setiap lautan dalam hal kadar berat jenis, kadar garam, biota laut, suhu dan kemampuan melarutkan oksigen.

Secara saintifik dapat diterangkan alasan-alasan tidak bercampurnya kedua laut tersebut saat bertemu sehingga terdapat batas yang jelas yang memisahkan keduanya.

Batas dua laut dapat berupa batas horizontal, yaitu ketika massa air laut yang satu berada di atas massa air laut yang lain, atau batas vertikal, yaitu ketika massa air laut yang satu berada di sisi massa air laut yang lain atau kedua laut itu berdampingan.

Kandungan kadar garam masing-masing air laut mungkin berbeda. Ketika dua lautan yang berbeda salintas (kadar garam air laut) saling bertemu, kedua lautan itu tidak akan bercampur. Sebagai contoh, perbedaan salintas ternyata membuat air dari Samudra Atlantik tidak bercampur dengan air Laut Mediteranita, tepatnya di sekitar Selat Gibraltar.

Pada bagian bawah Selat Gibraltar, ada gunung bawah laut yang membuat air dari Samudra Atlantik tidak mudah memasuki kawasan laut Mediterania.

rahmad jazuli Seorang Yang Senang Mengoptimasi Seo Blogger Dan Wordpress Sejak 2016, suka dengan berbagai bidang Dunia IT. Terimakasih Sudah Membaca Artikel Di website ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *